makalah abu bakar

author photo May 14, 2012





A.   PENDAHULUAN
Abu Bakar termasuk seorang laki-laki  yang pertama kali masuk islam, selain seorang sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah  sebelum dan sesudah kenabiannya. Dia juga menemani Rasulullah ketika berhijrah ke kota Madinah, dan mengikuti berbagai peperangan bersama Rasulullah dan bersama-sama pula bersembunyi di gua Tsaur. Pada malam permulaan hijrah sebelum melanjutkan perjalanan.
Kiranya tiadalah jauh dari kebenaran kalau kita katakan, bahwa dari lama dan eratnya hubungan persahabatan beliau dengan Rasulullah, serta kejujuran dan kesucian hatinya, maka beliau dapat mendalami jiwa dan semangat islam lebih dari yang didapat para Muslimin yang lain.
Dia digelari Al-shiddiq karena senantiasa membenarkan(shaddaqa) semua hal yang dibawa oleh Muhammad, atau karena dia tidak berkata kecuali yang benar. Abu Bakar mertua  Nabi  saw. Karena  putrinya, Aisyah, dinikahi Nabi. Nabi pernah mengutusnya memimpin kaum muslimin melakukan ibadah haji sebagai penggantinya pada tahun kesembilan hijriah. Selain itu, dia juga pernah mengganti kedudukan Nabi menjadi imam salat  ketika Nabi sakit.
Itulah antara lain yang mendorong kaum muslim memilihnya sebagai khalifah  setelah Rasulullah saw wafat. Dialah khalifah pertama di antara para al-Khulafa’ al-Rasyidun.

B.PEMBAHASAN
1.Siapa Abu Bakar ?
Namanya Abdullah ibnu Abi Quhafah at Tamimi. Dimasa jahiliah  bernama Abdul Ka’bah, Setelah masuk islam Nabi menggantinya dengan nama Abdullah. Nama panggilannya sehari-hari adalah Abu Bakar artinya bapak berpagi-pagi. Dikatakan demikian karena diantara sahabat Nabi, dialah yang paling duluan masuk islam. Beliau di gelari As-Shiddiq, karena amat segera membenarkan Rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama pristiwa Isra’ dan Mi’raj. Istri Abu Bakar bernama Qutailah bint Abdul Uzza yang mempunyai 2 anak Abdullah dan Asma. Setelah dengan Qutailah  ia kawin lagi dengan Umm Rauman bint Amir bin Uwaimir, dari perkawinannya itu lahir seorang anak bernama Abdur-Rhman dan Aisyah.
Di Madinah ia kawin dengan Habibah bint Kharijah dan Asma bint Umais.
Ayahnya bernama Usman yang biasanya dipanggil Abu Quhafah, sedangkan ibunya bernama Salma dan biasanya dipanggil Ummul Khair (ibu yang baik). Abu BAkar juga diberi julukan “Bapak Anak Unta” oleh karena kesenangannya terhadap hewan-hewan tersebut.

 2. Kehidupan Abu Bakar As-Shiddiq Sebelum Masuk Islam
Abu  Bakar termasuk golongan Assabiquunal  Awwaluun. Abu Bakar As-Shiddiq dilahirkan di Mekah pada tahun 573 M dan wafat pada tanggal 23 Agustus 634/21 jumadil akhir 13 H. Sebelum masuk islam, Abu Bakar adalah seorang pedagang, terutama berdagang kain kartun yang amat terkenal dan digemari orang pada waktu itu. Akhlak budi bahasa yang lemah lembut itu serta pandainya bergaul dengan setiap orang memberi pertolongan besar bagi kemajuan perdagangannya.
Abu Bakar juga termasuk orang yang mudah mengeluarkan air mata  bila terharu atau ketika berhadapan dengan kemuliaan dan keindahan. Abu Bakar memiliki kemampuan untuk menginterprestasikan  mimpiyang dialaminya.
Abu Bakar tinggal satu lorong dengan rumah siti khadijah bin khuwalid. Lorong itu terkenal tempat kediaman saudaga-saudagar Mekah yang mempunyai kafilah besar-besar yang mengantarkan dagangan mereka pulang pergi antara Syam dan Yaman di musim panas dan musim dingin.
Sesudah Nabi Muhammad SAW kawin dengan siti khadijah dan bertempat tinggal dengan istrinya itu, tumbuhlah ikatan perkenalan dan persahabatan antara mereka berdua. Keadaan seperti ini semakin hari semakin kuat dan erat.



3. Sikap Dan Perjuangan Abu Bakar As-Shiddiq Dalam Membela Nabi Muhammad SAW Serta Kaum Muslimin Yang Tertindas
Setelah Allah mengangkatnya sebagai Rasul teringat ia kepada Abu Bakar dan kecerdasan otaknya, lalu ia bicara dan diajaknya menganut ajaran tauhid,  menyembah Allah yang maha Esa dengan ajaran Rasulullah Abu Bakar Langsung menerima dengan baik tanpa ragu sedikit pun. Yang lebih menentukan lagi sewaktu Nabi Muhammad  menceritakan kepadanya mengenai Gua Hira dan wahyu yang diterimanya, ia langsung mempercayainya
Abu Bakar adalah seorang pemikir Mekah yang memandang penyembah berhala itu suatu kebodohan dan kepalsuan belaka. Ia sudah mengenal betul Nabi Muhammad SAW kejujurannya, kelurusan hatinya serta kejernihan pikirannya
Sudah cukup diketahui ketika Abu Bakar masuk islam hartanya tak kurang dari 40 dirham yang disimpannya dari hasil perdagangan. Semua harta yang ada padanya dan yang disimpannya, kemudian habis untuk kepentingan dakwah, mengajak orang ke jalan Allah, demi agama dan Rasulnya. Kekayaan itu digunakan untuk menebus orang-orang yang lemah dan budak-budak yang masuk islam, yang oleh majikannya disiksa dengan berbagai cara, tak lain hanya karena mereka masuk islam, contohnya salah seorang budak yang dimerdekakan bernama Bilal bin Rabbah.
Iman yang mengisi jiwa Abu Bakar inilah yang mempertahankan islam, sementara yang lain banyak meninggalkan setelah Rasulullah berbicara kepada mereka mengenai peristiwa isra, Muhammad berbicara kepada penduduk Mekah bahwa Allah telah memperjalankannya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan ia sembahyang disana, oleh orang-orang musyrik kisah itu diperolok, malah ada sebagian yang sudah islam pun merasa ragu dan tidak sedikit mereka yang sudah islam berbalik murtad. Tetapi, Abu Bakar menjawab dengan penuh rasa iman dan yakin bahwa apa yang disampaikan Rasulullah SAW itu benar. Sejak itu Muhammad memanggil Abu Bakar dengan As-Shiddiq.[1]
4. Peranan Abu Bakar Ketika Nabi Wafat
Abu Bakar sudah pulang kerumahnya di Sunh dipinggiran kota Madinah dan pada saat itu tersiar berita kematian Nabi, orang-orang menyusul abu Bakar untuk menyampaikan berita sedih itu, Abu Bakar segera kembali, ia melihat kaum muslimin dan Umar yang sedang berpidato, ia tidak berhenti, tetapi terus menuju kerumah Aisyah. Dilihatnya Nabi SAW di salah satu bagian dalam rumah itu sudah diselubungi kain. Lalu Abu Bakar mendekati dan menyingkap kain itu dari wajah Nabi lalu menciumnya dan ia berkata “Alangkah sedapnya sewaktu engkau hidup, dan alangkah sedapnya sewaktu engkau wafat”.
Lalu Abu Bakar keluar dan menemui orang banyak dan berkata: Saudara-saudara ! barang siapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal, tetapi barang siapa menyembah Allah, Allah hidup selalu, tak pernah mati.
5. Pembai’atan Abu Bakar
Sesudah Rasulullah wafat, kaum Anshar menghendaki agar orang yang akan menjadi khalifah dipilih dari antara mereka. Dalam masa itu Ali Ibnu Abi Thalib mengingini agar beliaulah yang diangkat menjadi khalifah berdasarkan kedudukan beliau dalam islam apa lagi beliau adalah menantu dan karib Nabi.[2]
Sementara itu tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di Balai kota Bani Sa’idah, Madinah, mereka memusyawarahkan siapa yang akan
dipilih jadi pemimpin., baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama berhak menjadi pemimpin, namun dengan semangat ukuwah islamiah yang tinggi akhirnya Abu Bakar terpilih.



6. Kesulitan yang Dihadapi Abu Bakar Setelah Menjadi Khalifah
Pada tahun 632 M Abu Bakar sudah harus menghadapi suku-suku bangsa Arab yang tidak mau lagi tunduk kepada Madinah, mereka menganggap  bahwa perjanjian yang mereka buat dengan Nabi SAW dengan sendirinya tidak mengikat lagi setelah beliau wafat. Mereka menentang Abu Bakar.
Diantara ksulitan yang dihadapi Abu Bakar  adalah:
a.       Memberantas Kaum Murtad dan Munculnya Nabi-Nabi Palsu
Setelah Nabi Muhammad berpulang kerahmatullah murtadlah kebanyakan mereka dari agama islam. Dan orang-orang yang lemah imannya itu selalu saja memperlihatkan ketidak patuhan mereka kepada agama islam.
Ada golongan  orang-orang yang salah menafsirkan sejumlah ayat-ayat al-qur’an atau salah memahamkannya. Mereka menempuh jalan sesat yaitu jalan yang bukan ditempuh oleh kaum muslimin terbanyak, ada yang mengaku dirinya sebagai Nabi dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat,orang-orang tersebut sebagian besar muncul  di Tanah Arab. Yang masih patuh kepada agama islam hanya penduduk Mekkah, Madinah dan Thaif
Ada 3 orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi yaitu Musailamah Al-Kazab, Tulaihah bin khuwalid dan sajah Tamiyah. Adanya Nabi-nabi palsu itu pasti membahayakan kehidupan agama dan Negara islam. Lalu pasukan Isalm ditugaskan untuk menumpas mereka dan pengikutnya, melalui Perang Riddah yaitu perang melawan kemurtadan yang dipimpin oleh panglima Khalid bin Walid, kemenangan berada dipihak kaum muslimin.
7. Diantara Prestasi yang Ditempuh Abu Bakar Pada Masa Pemerintahannya
Pada masa pemerintahan Abu Bakar prestasi yang diraihnya diantaranya adalah:
a.       Perbaikan sosia
b.      Pengumpulan ayat-ayat Al-qur’an
c.       Perluasan dan Penyebaran agama
d.      Menghadapi orang-orang murtad dan tidak membayar zakat
e.       Memberantas orang-orang yang menganggap dirinya sebagai Nabi.
8. Abu Bakar Meninggal Dunia
Abu Bakar memegang kendali pemerintahan selama dua tahun lebih sedikit. Kemudian beliau merasa sakit. Selama lebih kurang 15 hari terbaring di tempat tidur. Wafat pada umur 63 tahun pada hari senin 23 Agustus.
Abu bakar meninggal dunia pada saat berkecamukan perang Yarmuk yang berlangsung selama tiga bulan dengan kemenangan ditangan kaum Muslim atas bangsa Romawi.
C.Kesimpulan
Abu Bakar As-shidiq adalah seorang laki-laki yang pertama masuk islam. Beliau merupakan sahabat Nabi sekaligus mertua Nabi,dan dia lah khalifah pertama diantara khulafa’rasyidin. Abu Bakar lahir di Mekah tahun 572. Nama beliau sesungguhnya adalah Abdullah Ibnu Abi Quhafah at-Tamimi. Beliau digelari As-Shidiq karena beliau amat membenarkan Rasul dalam berbagai macam peristiwa, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Berkat iman dan keyakinannya yang kuat itulah kepemimpinan Abu Bakar dapat memberantas kaum murtad, Nabi-nabi palsu dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat.
Abu Bakar memegang kendali pemerintahan selama 2 tahun lebih sedikit. Masa yang amat singkat itu dapat dipandang sebagai masa yang menentukan bagi sejarah islam Abu Bakar meninggal dunia pada hari senin 23 Agustus 634 setelah kurang lebih 15 hari terbaring di tempat tidur.








DAFTAR PUSTAKA


A.Amin, Husayn. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam, Diterjemahkan Bahruddin Fanni, Bandung: PT Remaja Rosdakarya 1995.
Haekal, Muhammad Husaen, Abu Bakar As-Shiddiq, Diterjemahkan Ali Audah, Bogor-Jakarta: PT Pustaka Letera AntarNusa, 2009.
Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bandung: PT Al- Husna, 1997.
Suradi, Ahmad, Sejarah Islam, Bandung: CV armico, 1997.


[1]  Muhammad Husain Haekal, Abu Bakar As-Shiddiq, di terjemahkan oleh Ali Audah, (Bogor-Jakarta: PT Pustaka Letera AntarNusa, 2009) hlm:10.
[2]  A. Syalabi, Sejarah dan Peradaban Islam, ( PT: Al Husna Zikra, 1997 ) hlm:227

This post have 0 komentar


:) :( hihi :-) :D =D :-d ;( ;-( @-) :P :o -_- (o) :p :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ $-) (y) (f) x-) (k) (h) cheer lol rock angry @@ :ng pin poop :* :v 100

Next article Next Post
Previous article Previous Post