Senin, 14 Mei 2012

aliran-aliran filsafat islam


1.      Aliran Pemikiran Filsafat Islam ( Irfani / Gnosisme).
Tidak dapat kita ragukan lagi bahwa Umat Islam ikut terlibat dalam pemikiran Filsafat yang kemudian mendeskripsikan dan mengenalkan banyak Filosof Muslim yang bergelut didalamnya. Jika dalam disiplin ilmu orang-orang Yunani, kita sebut sebagai Filsafat Yunani (Greek), akan tetapi jika dibawah naungan Islam boleh lah kita katakan sebagai Filsafat Islam, karena dipengaruhi oleh nilai-nilai corak keislaman.
Kita juga sering menyebutnya Filsafat Arab, karena bahasa yang paling popular pada saat ilmu ini berkembang pesat di dunia Islam adalah bahasa Arab, dan sangat membuang waktu jika penyebutan tersebut menjadikan perpecahan karena adanya Rasisme, karena hal ini tidak sesuai dengan kaidah kefilsafatan Islam itu sendiri yang harus bebas dari hal-hal yang bertolak belakang dengan ajaran murni Islam. Selain itu, Filsafat Islam tampak lebih luas dari aliran-aliran Aristotelisme Arab, karena aliran Teologis (kalam) adalah contoh filsafat dari corak Islam dan telah dikenal serta menjadi tokoh.[1]
Filsafat sangat diperlukan dalam kehidupan ini, karena dalam menjelaskan sesuatu yang tabu dan Mistik di dunia ini menjadi sebuah hal yang Rasional yaitu dengan metode Filsafat, yang dengannya, suatu doktrin atau ilmu tidak hanya sebatas diyakini tanpa dilihat kebenarannya. Salah satu cabang dari Filsafat adalah Epistemologi, epistemologi adalah cara mendapatkan pengatahuan yang benar[2] sebab didalamnya terdapat pembahasan menganai bagaimana cara mendapatkan pengetahuan.
Sesuai dengan hal ini maka pada Ending-nya yang dikatakan oleh Filsafat dengan Epistemologi pasti akan bersentuhan dengan yang dinamakan Logika.[3] Meskipun logika itu sendiri disusun pertama kali oleh Aristoteles (384-322 SM), yang juga disebut sebuah ilmu tentang hukum berfikir agar terpelihara dari setiap kekeliruan, dan juga membimbing dan menuntun seseorang supaya berfikir teliti.[4]
Metodologi (Epistemologi) pemikiran Islam bukan hanya sebatas mengandalkan Eksperimen Lahiriyah, akan tetapi harus dengan kesucian hati, setidaknya ada dua manfaat yang bisa kita peroleh dari model gabungan antara Rasio dan hati:[5] Manfaat yang bisa diambil dari kedua model tersebut adalah:
Pertama, agar kita tidak ikut jatuh dalam problem spiritulitas manusia modern (Barat), yang hanya berpegang pada kekuatan rasio, tanpa kekuatan spiritual dan agama.
Kedua, diharapkan akan diperoleh nilai atau ide-ide yang lebih tinggi dari “alam langit” sehingga bisa menghasilkan manfaat yang besar bagi kemanusiaan.
Dan bagian dari cabang Filsafat yang paling mendasar adalah sebagai berikut:
                                  Ontologi                      Teologi                  (Ketuhanan)
Filsafat                      Epistemologi             Antropologi             Manusia(Humanistis)
                                  Aksiologi                     Kosmologis           Alam Semesta(Universe)

                                            -Estetika (Keindahan)
                                            - Etika    (Tingkah Laku)
Sementara Epistemologi terbagi dalam dua kategori:[6]
1.      Epistemologi keilmuan Barat         Natural Science, Humanity, Social Science
2.      Epistemologi Islamic Studies         Classical Science
 Baik diperselisihkan ataupun tidak baik dari segi nama maupun kandungannya, Filsafat Islam tetap dipandang mempunyai corak yang tersendiri dan problem yang Khas serta kepribadian sendiri dari Filsafat Barat, sehingga ia give a contribution yang tak bisa kita remehkan dalam kinerja manusia yang mempunyai tempat sendiri dalam dunia.[7]
Para Filosof Islam selain juga mereka sebagai Filosof, mereka juga sebagai Ilmuan yang berkecimpung dalam dunia Science, yang mengembangkan ilmu agar sesuai dengan zaman, karenanya tidak ada Filsafat yang terpisah dari suatu kajian yang kita namakan dengan kajian Ilmiah atau keilmuan yang menyesuaikan dengan peradaban manusia di masing-masing Zaman.[8] Untuk perangkat analisis Epistemologi yang bercorak keislaman, maka kita memerlukan apa yang disebut oleh M. Abid al-Jabiri dengan Epistemologi Bayani, Irfani dan Burhani.[9]
Irfan semakna dengan Ma’rifat yang berasal dari bahasa Arab yakni ‘arafa yang berarti pengetahuan.[10] Akan tetapi Irfan berbeda dengan ilmu, yang berkaitan dengan rasional yang dibuktikan melewati research tetapi berkaitan dengan pengetahuan yang diperoleh langsung dari atau melewati pengalaman (Experience).Disebutkan juga bahwa Irfani ini erat dengan Konsepsi Tasawuf.[11]
Karena itu, pengetahuan Irfani tidak diperoleh berdasarkan analisa teks tetapi dengan olah ruhani, dimana dengan kesucian hati, diharapkan Tuhan akan melimpahkan pengetahuan langsung kepadanya. Masuk dalam pikiran, dikonsep kemudian dikemukakan kepada orang lain secara logis. Dengan demikian pe-ngetahuan Irfani setidaknya diperoleh melalui tiga tahapan;[12]


2.      Teknik Penelitian Irfani:
Secara umum kita ketahui bersama bahwa teknik penelitian Irfani terbagi kepada:[13]
1.      Riyâdhâh: yakni rangkaian latihan dan Ritus dengan tahap dan prosedur tertentu.
2.      Tharîqah: yaknikehidupan berjamaah yang mengikuti aliran tasawuf yang sama.
3.      Ijazah: yakni murid yang telah dianggap memenuhi syarat, akan diberikan wewenang oleh sang mursyid untuk mengajarkan ilmunya.
Irfani juga mampunyai langkah-langkah penelitian yaitu:[14]
Irfani                    Takhîlyah
                             Tahlîyah                 Langkah (metodologi).
                             Tajlîyah
Takhlîyah: Mengosongkan pikiran dari makhluk dan mamusatkan perhatian pada Tuhan.
Tahlîyah: memperbanyak amal Shaleh dan melazimkan korelasi dengan sang Khaliq lewat ritus-ritus tertentu.
Tajlîyah: menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapi.
Secara terminologis, Irfan dapat diartikan sebagai ekspresi atas pengetahuan yang diperoleh melalui kedekatannya kepada Tuhan setelah adanya olah ruhani (Riyâdlah) atas dasar cinta kepada Tuhan. Ilmu (pengetahuan) yang kemudian menjadikan Irfan lebih dikenal dengan Terminologi Mistis yang secara khusus berarti Ma’rifat dalam pengertian pengetahuan Tuhan.[15]
Irfan                        Irfan Ilmi                   
                                            Irfan Amali
Irfan Ilmi lebih bersifat Teoretis, karena bersifat Ilmiah,Rasional dan mempunyai metode, berhubungan dengan Ontologi, karena membicarakan Tuhan, dunia, dan manusia, Irfan Ilmi merupakan gabungan antara Filsafat dan Isyraqiyah, dan pada dasarnya aliran Irfan dan Isyraq merupakan aliran Filsafat Sufisme yang meninggalkan kerangka kerja Operatif dan metodenya yaitu Dzikir.[16]Sementara itu, Irfan teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (Ontologi), mendiskusikan manusia, Tuhan serta alam semesta. Dengan sendirinya, bagian ini menyerupai teosofi (Falsafah Ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud. Seperti halnya filsafat, bagian ini mendefinisikan berbagai prinsip dan problemanya. Namun,  jika filsafat hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, Irfan mendasarkan diri pada ketersibukan mistik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.[17]
                    Sementara Irfan Amali bersifat praktis (hubungan Vertikal antara Hamba dengan Tuhan) atau lebih mirip dengan Tasawuf. Menurut Irfaniyyun, Ilmu ada dua macam:
a.       Ilmu lahir
Ilmu lahir untuk masyarakat Awam yang memperoleh ilmu dari Nabi Saw.
b.      Ilmu Bathin
Ilmu Bathin untuk para Imam dan wali yang diperoleh malalui Kasyf, maka dalam Irfan dikenal dengan Pasangan kewalian dan kenabian sebagai representasi yang lahir, kenabian ditandai dengan wahyu dan mukjizat serta dari bawaan (sebagai bawaan, Fitrah), sementara kewalian ditandai dengn Irfan dan Karamah.Dalam epistemologi irfani, untuk bisa menerima limpahan pengetahuan (kasyf), seseorang harus menempuh jenjang-jenjang kehidupan spiritual. . Namun, karena pengetahuan Irfani bukan masuk tatanan konsepsi dan representasi tetapi terkait dengan kesatuan simpleks kehadiran Tuhan dalam diri dan kehadiran diri dalam Tuhan,[18] Sehingga tidak bisa dikomunikasikan, maka tidak semua pengalaman ini bisa diungkapkan.[19]
Setidaknya ada tujuh tahapan yang harus dijalani, mulai dari bawah menuju puncak, ketujuh tahapan itu adalah:
a.       Taubat, yakni meninggalkan segala perbuatan yang kurang baik disertai dengan penyesalan yang mendalam yang kemudian diganti dengan perbuatan-perbuatan yang terpuji.
b.      Wara` yakni menjauhkan diri dari segala sesuatu yang tidak jelas statunya . apakah sesuatu tersebut halal atau haram (Syubhât).
c.        Zuhud yakni tidak tamak dan tidak mengutamakan kehidupan dunia,
d.      Faqir, yakni mengosongkan seluruh pikiran dan harapan dari kehidupan masa kini ataupun kehidupan yang akan datang, tidak menghendaki apapun kecuali Tuhan swt.
e.       Sabar, yakni menerima segala bencana dengan laku sopan dan rela namun tidak berarti diam.
f.       Tawakkal, yakni percaya dan memnyandarkan diri atas apa yang ditentukan oleh Tuhan.
g.      Ridla,hilangnya rasa ketidaksenangan dalam hati sehingga yang tersisa hanya gembira dan suka cita.
              Dengan kedekatan kepada Tuhan maka penyinaran atau Ilham dari Tuhan, maka seseorang yang menjalaninya akan mendapat suatu pengetahuan yang telah didapatkan melalui pengalaman (Experience). Metode ini menggunakan aspek kesucian hati sebagai syarat untuk memperoleh ilham dari Allah.
              Hakikat Allah sebagai cahaya, telah mewariskan pengaruhnya pada Spiritualitas keislaman, bukan hanya melalui Mazhab Illuminasi (Isyrâq), yang didirikan oleh Syihâb Al-Dîn Suhrawardi, melainkan juga dalam cabang mazhab Illuminasionis yang lebih umum yang dijumpai secara luas dalam berbagai bentuk dan mazhab dan Filsafat Islam, termasuk Irfani.[20]
              Isyraq berarti bersinar atau memancarkan cahaya dan tampak searti dengan Kasyf tapi intinya adalah penyinaran (Illuminasi).[21]
Isyrâq (Iluminasi) mula-mula digagas oleh Al-Fârâbî, Filosof Iluminasi yang pertama dan merupakan titik temu antara Filosof Muslim dengan kaum Sufi, yang teorinya cukup mempunyai andil besar terhadap pengaruh pondasi Ma’rifat (Irfan) yang dibuat oleh Sufi meskipun dengan manifestasi dan Metodologi yang dibuat oleh orang  Filosof.[22] Kaum Filosof yang mengenalkan Teori Iluminasi Plato, kemudian berkembang di abad ke-3 oleh Plotinus.
3.       Hakikat Irfani
Sebagai sebuah ilmu, irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggung jawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan Tuhan. Sebagai ilmu praktis, bagian ini menyerupai etika. Bagian praktis ini disebut Sayr wa Suluk (perjalanan rohani). Bagian ini menjelaskan bagaimana seseorang penempuh rohani (Salik) yang ingin mencapai tujan puncak kemanusiaan, yakni Tauhid, harus mengawali perjalanan, menempuh tahapan-tahapan (Maqam) perjalanannya secara berurutan, dan keadaan jiwa (hal) yang bakal dialaminya sepanjang perjalanannya tersebut. Jenis pengetahuan al-Dzauqîyah (berdasarkan perasaan) atau Irfan (berdasarkan kearifan) ini bertentangan dengan pengetahuanRasional, namun dalam sebuah istilah Filsafat, ia adalah pengetahuan jenis khusus yang diproyeksikan unstuck sampai kepada penyingkapan suatu jenis pengetahuan-pengetahuan yang maha tinggi atau merasakan pengetahuan tersebut tertanam dalam jiwa[23]
Sementara itu, ‘irfan teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi), mendiskusikan manusia, Tuhan serta alam semesta. Dengan sendirinya, bagian ini menyerupai teosofi (falsafah ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud. Seperti halnya filsafat, bagian ini mendefinisikan berbagai prinsip dan problemanya. Namun,  jika filsafat hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, ‘irfan mendasarkan diri pada ketersibukan mistik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.[24]
4.      Sumber Awal Irfani.[25]
Para pakar berbeda pendapat tentang asal mula sumber irfani. Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai Sumber awal Irfani:
a.       Irfan Islam berasal dari sumber Majusiseperti yang dikatakan oleh Orientalis, alasan mereka adalah sejumlah orang yang sebagian besarnya adalah Majusi di Iran Utara tetap pada agama mereka meskipun penaklukan oleh Islam sudah dilakukan dan banyak tokoh Sufi berasal dari Khurasan, disamping itu aliran-aliran Sufi dari kelompok Majusi telah ada,seperti:Ma’ruf al-Kharki yang wafat pada tahun 815 M dan Bayazid Busthami yang wafat pada tahun 877 M,[26] hal  ini disampaikan oleh orang Orientalis Dozy dan Thoulk.
b.      Irfan berasal dari sumber-sumber Kristen, seperti dikatakan oleh Von Kramer,Ignaz Goldziher,Nicholson, Asin Palacios dan O’lery, alasanya:
(1). Adanya Interaksi antara orang-orang Arab dengan kaum Nashrani pada Zaman Jahiliyah maupun Zaman Islam.
(2). Adanya segi kesamaan antara kehidupan para Sufis, dalam soal ajaran, tata cara melatih jiwa (Riyâdhah) dan mengasingkan diri (Khalwât), dengan kehidupan Yesus (Jesus) dan ajarannya, juga para Rahib (Pendeta) dalam soal pakaian serta cara sembahyang.
       c.   Irfan ditimba/ dirujuk dari India, seperti pendapat Horten dan Hartman, alasanya:
(1) Kemunculan dan penyebaran Irfan (Tasawuf) pertama kali adalah di Khurasan, (2) kebanyakan dari para Sufi angkatan pertama bukan berasal dari kalangan Arab, seperti Ibrahim Ibn Adham (w.782 M), Syaqiq al-Balkh (w.810) dan Yahya ibn Muadz (w. 871 M)  (3) Pada masa sebelum Islam, Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan Timur dan Barat, mereka member warna Mistisisme lama ketika memeluk Islam, (4) Konsep dan metode Tasawuf seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih adalah praktek yang sudah dilakukan oleh orang India, khususnya orang Hindu.
       d.  Irfan berasal dari sumber-sumber Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan Hermes, seperti yang disampaikan oleh O’eary dan Nicholson, alasannya adalah Theologi Aristoteles yang merupakan perpaduan antara sistem Pophiri dan Proclus telah dikenal baik dalam Filsafat Islam, nyatanya Dzun al-Nun al-Mishri (796-861 M), tokoh sufisme yang dikenal sebagai Filosof dan pengikut Sains Hellenistik.[27]

Lalu, apakah benar bahwa Irfan bukan dari Islam?
              Pendapat pertama, bahwa Irfan bersumber dari Majusi, jelas tidak mempunyai dasar yang kuat. (1) Perkembangan Irfan dan Sufisme tidak sekedar keinginan Ma’ruf al-Kharki dan Bayazid Busthami, tetapi banyak juga tokoh Sufis Arab yang hidup di Mesir, Syiria dan Baghdad, Seperti Dzun al-Mishri (w.861 M), Abd Qadir Jailani (w.1165 M), Ibnu Arabi (w.1240 M), Umar ibnu Faridh (w.1234 M), dab Ibnu Athaillah al-Iskandari (w.1309 M), mereka mempunyai pengaruh cukup besar bagi perkembangan Irfan di kemudian hari, (2) Kemunculan Ma’ruf al-Kharki (w.815 M) dan Bayazid Busthami (w.877 M), adalah setelah masa Rasul, Sahabat, dan angkatan kaum Sufi yang pertama.[28]
              Pendapat kedua yang menyatakan bahwa Irfan berasal dari kaum Nashrani, memang diakui bahwa ada kesamaan/ kemiripan antara Tasawuf Islam dengan mistisisme Kristen, tapi hal itu tak cukup dijadikan sebagai dasar alasan bahwa Irfan berasal dari ajaran Kristen, begitu pula tak dapat dipungkiri bahwa ada pengaruh ajaran Kristen pada sebagian tokoh Sufis, salah satunya al-Hallaj (858-913 M) yang menggunakan terminology Kristen seperti malakût, lahût dan nasût, akan tetapi gejala itu muncul setelah masa kedua dan ketiga Sufisme sudah mapan dan berpotensi menyangga munculnya angkatan tasawuf berikutnya.[29]
5.      Tokoh-tokoh Irfani (Irfaniyûn):[30]
1.      Rabi’ah Al-Adawiyah 96 H/ 713 M – 185H/ 1801 M.
Dia mempunyai teori yang mirip dengan Irfani(Ma’rifah) yakni Mahabbah(Cinta) kepada Tuhan. Dia tokoh pertama Sufi yang diperkenalkan dalam Literatur Eropa, orang yang terkenal pada abad ke-8 M, sejarahnya dibawa ke Eropa oleh Joinvile, seorang Kanselir Luis IXsetelah abad ke 13 M.[31]
2.      Dzu al-Nun al-Mishri 180 H/ 796M - 246H/ 856 M.
3.      Tentang keabsahan Epistemologi Irfani, banyak tokoh yang membantah dan mengkritiknya, Ibnu Hazm misalnya: menurutnya metode Ilham yangdiakui kalangan Irfan ini tidak bisa dijadikan sumber pengetahuan yang mengharuskan semua orang mengakui kebenarannya, disamping itu, Epistemologi Irfani ini bersumber dari pengetahuan (Experience) sehingga selalu mengarah pada aspek-aspek yang bersifat Pribadi, Oleh karena itu, selamanya akan merupakan milik pribadi yang Privat dan tak bisa dikomunikasikan dengan orang lain, juga Validitas kebenaran Epistemologi Irfani hanya dapat dirasakan langsung oleh orangnya.[32]

DAFTAR PUSTAKA

              Abdullah, Amin. 2006. Islamic Studies Di Perguruan Tinggi (Pendekatan Integratif-Interkonektif), Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
              al-Attar, Farid al-Din. 1994. Warisan para Aulia, terj. Anas Muhyidin, Bandung: Pustaka.
              Al-Jabiri, 1993. Bunyah al-Aql al-Arabi, Beirut: al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi.
Al-Mayli, Muhsin. 1996. Pergulatan Mencari Islam: Perjalanan Religius Roger Garaudi, ter. Rifyal Ka’bah, Jakarta: Paramadina.
              Damami,Mohammad. 2002. Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa, Yogyakarta: Lesfi.
              Hanafi, Ahmad. 1990. Pengantar Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
              Hilal, Ibrahim. 2002. Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, terj. Ija Suntana dan E. Kusdian, (Jakarta: Pustaka Hidayah.
              Hossein Nasr,Seyyed. 2002. Ensiklopedi Tematis Spiiritual Islam, terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan.
              Jumantoro,Totok. Munir Amin, Samsul. 2005. Kamus Ilmu Tasawuf, Jakarta: Amzah.
              Muthahari, Murtadha. 2002. Mengenal ‘Irfan, terj. C. Ramli Bihar Anwar, Jakarta;Hikmah.
              Muthahari,Murtadha. 2002. Mengenal ‘Irfan, terj. C. Ramli Bihar Anwar, Jakarta: Hikmah.
              Nasution,Khoiruddin. 2009. Pengantar Studi Islam, Yogyakarta: ACAdeMIA.
              Nicholson. 1998. Mistik dalam Islam, Terj. Tim Bumi Aksara, Jakarta: Bumi Aksara.
              Schimmel,Annemarie. 1992. Mystical Dimenstion Of Islam, Carolina: The University Of Calorina Press.
              Seyyed Hossein. 2002. Ensiklopedi Tematis Spiiritual Islam, terj. Rahmani Astuti, Bandung: Mizan.
              Sholeh, A.Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
              Sou’yb,M. Joesoef. 1983. Logika: Kaidah Berfikiir Secara Tepat, Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
              Sumantri, Suria. S, Jujun. 1996. Filsafat Ilmu:Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
              Toriquddin, M. 2008. Sekularitas Tasawuf: Membumikan Tasawuf Dalam Dunia Modern, Malang: UIN Maliki Press.
              al- Wafa Taftazani, Abu. 1985. Sufi Dari Zaman ke Zaman, terj. Rafi Usman, Bandung: Pustaka.
              Yazdi, Mehdi Hairi. 1994. Ilmu Hudhuri, terj. Ahsin Muhammad, Bandung: Mizan.


[1]Ibrahim Wadkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam. Terjemahan oleh Yudian Wahyudi Asmin, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995) cet ke1, hal.2.
[2]Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu:Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1996) cet. ke 10, hal.100. disampaikan oleh Ahmad, Epistemologi Ilmu-Ilmu Tasawuf (Makalah Program Pasca Sarjana IAIN Antasari Banjarmasin), 2007, hal.1.

[3] Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi (Pendekatan Integratif-Interkonektif), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), cet ke1, hal.129.

[4] M. Joesoef Sou’yb, Logika: Kaidah Berfikiir Secara Tepat, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya,1983), cet. ke1, hal.231.
[5] A. Khudori Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), Cet.ke1, hal.XXVI.
[6] Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi (Pendekatan Integratif-Interkonektif), hal.201.
[7] Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990),cet. ke5, hal.23.
[8]Ibrahim Wadkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam. Terjemahan oleh Yudian Wahyudi Asmin, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), Cet ke2, hal.5.
[9]Amin Abdullah, Islamic Studies Di Perguruan Tinggi, hal.201.
[10] Al-Jabiri,Bunyah al-Aql al-Arabi, (Beirut, al-Markaz al-Tsaqafi al-Arabi, 1993), hal.251.
[11]Al Qusyairi, Al Risalah, Beirut, Dar-al Khair, tt. hal. 89.
[12]Mehdi Hairi. Yazdi, Ilmu Hudhuri, terj Ahsin Muhammad, (Bandung, Mizan: 1994), hal. 51-53.
[13] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam, (Yogyakarta: ACAdeMIA, 2009), cet  ke-1, hal.45-46.
[14] Khoiruddin Nasution, Pengantar Studi Islam,  hal.45-46.
[15]Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, (Jakarta: Amzah, 20005), hal.97.
[16]Totok Jumantoro,Kamus Ilmu Tasawuf,  hal.97.
[17] Murtadha Muthahari, Mengenal ‘Irfan, terj. C. Ramli Bihar Anwar, (Jakarta: Hikmah, 2002), hal. 3.
[18] Mohammad Damami, Makna Agama Dalam Masyarakat Jawa, (Lesfi, Yogyakarta :2002), hal.. 41.
[19] Mehdi Hairi. Yazdi, Ilmu Hudhuri, terj Ahsin Muhammad, (Bandung, Mizan: 1994), hal.245.
[20] Seyyed Hossein Nasr, Ensiklopedi Tematis Spiiritual Islam, Terjemahan oleh Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 2002), hal.432-433.
[21]Totok Jumantoro, Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf,  hal.97.
[22] Ibrahim Hilal, Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, terjemahan oleh Ija Suntana dan E. Kusdian, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 2002), hal.50.
[23] Muhsin Al-Mayli, Pergulatan Mencari Islam: Perjalanan Religius Roger Garaudi, ter. Rifyal Ka’bah, (Jakarta: Paramadina,1996), Cet ke1, hal.71.
[24] Murtadha Muthahari, Mengenal ‘Irfan, terj. C. Ramli Bihar Anwar, (Jakarta;: hikmah, 2002), Hlm. 3
[25]A. Khudori Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam, hal.194.
[26] Keterangan lengkap lihat Farid al-Din al-Attar, Warisan para Aulia, Terjemahan oleh Anas Muhyidin, (Bandung: Pustaka, 1994).
[27] Nicholson, Mistik dalam Islam, Terjemahan olehTim Bumi Aksara, (Jakarta: Bumi Aksara,1998), hal.10-11.
[28]A. Khudori Sholeh, Wacana Baru Filsafat Islam, hal.196.
[29] Abu al-Wafa Taftazani, Sufi Dari Zaman ke Zaman, terj. Rafi Usman, (Bandung: Pustaka, 1985), hal.7-8.
[30] M. Toriquddin, Sekularitas Tasawuf: Membumikan Tasawuf Dalam Dunia Modern,  (Malang: UIN Maliki Press, 2008), hal.167.
[31]Annemarie Schimmel, Mystical Dimenstion Of Islam, (Carolina: The University Of Calorina Press, 1992), hal.8.
[32] Totok Jumantoro,Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, hal.95.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar